PERENCANAAN JANGKA PENDEK
Tahap dasar perencanaan
Menjelang akhir tahun, adalah saat yang
tepat untuk merumuskan perencanaan usaha tahun mendatang. Berikut ini empat
tahap dasar pembuatan perencanaan yang baik:
Tahap 1 : Menentukan tujuan atau serangkaian tujuan.Perencanaan dimulai
dengan keputusan-keputusan tentang keinginan atau kebutuhan perusahaan. Tanpa
rumusan tujuan yang jelas, penggunaan sumber daya perusahaan tidak efektif.
Tahap 2 : Merumuskan keadaan saat ini.Pemahaman akan kondisi perusahaan
sekarang dan tujuan yang hendak dicapai atau sumber daya-sumber daya yang
tersedia untuk pencapaian tujuan, adalah sangat penting. Karena tujuan dan
rencana menyangkut waktu akan datang. Hanya setelah keadaan perusahaan saat ini
dianalisa, rencana dapat dirumuskan untuk menggambarkan kegiatan lebih lanjut.
Tahap kedua ini memerlukan informasi terutama keuangan dan data statistik.
Tahap 3 : Mengindentifikasikan segala kemudahan dan hambatan.Segala
kekuatan dan kelemahan serta kemudahan dan hambatan perlu di identifikasikan,
untuk mengukur kemampuan organisasi dalam mencapai tujuan. Oleh karena itu,
perlu diketahui faktor-faktor lingkungan dalam dan luar yang dapat membantu
perusahaan mencapai tujuannya, atau yang mungkin menimbulkan masalah. Walaupun
sulit dilakukan, antisipasi keadaan, masalah dan kesempatan serta ancaman yang
mungkin terjadi di waktu mendatang, adalah bagian penting dari proses
perencanaan.
Tahap 4 : Mengembangkan rencana atau serangkaian kegiatan untuk
pencapaian tujuan.Tahap akhir dalam proses perencanaan
meliputi pengembangan berbagai pilihan kegiatan untuk pencapaian tujuan,
penilaian pilihan kegiatan terbaik (paling memuaskan) di antara pilihan yang
ada.
Rencana operasional
Perencanaan
Operasional (Operational Planning) Adalah perencanaan jangka pendek yang
dirancang untuk menerjemahkan rencana jangka panjang ke dalam serangkaian
kegiatan yang lebih rinci. imerupakan terjemahan sekaligus penunjang rencana
jangka panjang.
Operasional (dibuat untuk dilaksanakan; untuk keperluan tindakan-tindakan kemudian dan seterusnya; bukan yang telah lalu).
Tujuan operasinal diturunkan dari tujuan dan rencana taktis. Rencana operasional lebih sempit dengan jangka waktu yang lebih pendek dan banyak melibatkan manajemen tingkat bawah. Rencana Tunggal untuk aktivitas tidak berulang, contoh: program, proyek, dan anggaran.Rencana Standing untuk aktivitas yang berulang, contoh: kebijakan, prosedur standar, dan aturan.
Langkah-Langkah Membuat Rencana Operasional
Perencanaan operasional umumnya merupakan turunan, terjemahan atau ejawantah dari tujuan umum perusahaan dalam rentang waktu tertentu (selama satu tahun umpamanya) berikut rencana stragtegis yang sudah ditetapkan oleh manajemen. Walau demikian perencanaan operasional dapat juga digunakan oleh individu untuk keperluan pribadinya, bahkan dianjurkan agar pekerjaannya terarah dan terorganisir dengan baik.
Bentuk perencanaan operasional cukup sederhana, tetapi penulisannya membutuhkan ketelitian yang cukup tinggi.
Berikut langkah-langkah yang biasa diambil untuk membuat perencaan aksi :
1. Tentukan hal-hal, pekerjaan atau tugas-tugas apa saja yang akan dikerjakan. Upayakan selalu menggunakan ungkapan yang spesifik. Tidak cukup hanya mencantumkan ’menulis surat’, tetapi lebih baik ’menulis surat perkenalan untuk dikirimkan ke 100 perusahaan melalui pos’.
Operasional (dibuat untuk dilaksanakan; untuk keperluan tindakan-tindakan kemudian dan seterusnya; bukan yang telah lalu).
Tujuan operasinal diturunkan dari tujuan dan rencana taktis. Rencana operasional lebih sempit dengan jangka waktu yang lebih pendek dan banyak melibatkan manajemen tingkat bawah. Rencana Tunggal untuk aktivitas tidak berulang, contoh: program, proyek, dan anggaran.Rencana Standing untuk aktivitas yang berulang, contoh: kebijakan, prosedur standar, dan aturan.
Langkah-Langkah Membuat Rencana Operasional
Perencanaan operasional umumnya merupakan turunan, terjemahan atau ejawantah dari tujuan umum perusahaan dalam rentang waktu tertentu (selama satu tahun umpamanya) berikut rencana stragtegis yang sudah ditetapkan oleh manajemen. Walau demikian perencanaan operasional dapat juga digunakan oleh individu untuk keperluan pribadinya, bahkan dianjurkan agar pekerjaannya terarah dan terorganisir dengan baik.
Bentuk perencanaan operasional cukup sederhana, tetapi penulisannya membutuhkan ketelitian yang cukup tinggi.
Berikut langkah-langkah yang biasa diambil untuk membuat perencaan aksi :
1. Tentukan hal-hal, pekerjaan atau tugas-tugas apa saja yang akan dikerjakan. Upayakan selalu menggunakan ungkapan yang spesifik. Tidak cukup hanya mencantumkan ’menulis surat’, tetapi lebih baik ’menulis surat perkenalan untuk dikirimkan ke 100 perusahaan melalui pos’.
2. Tunjuk siapa yang akan mengerjakan penulisan surat
itu dan cantumkan namanya. Pilih orang yang tepat dan kompeten.
3. Tetapkan waktunya. Kapan mulai dan kapan harus
tuntas. Perkirakan dengan teliti waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan
pekerjaan tersebut. Tambahkan satu dua hari untuk berjaga-jaga kalau-kalau
muncul halangan di tengah jalan.
4. Hitung biaya yang dibutuhkan dengan cermat. Ada
baiknya dinaikkan sedikit, 10% umpamanya untuk mengantisipasi kenaikan harga
atau hal-hal lain yang tak terduga.
5. Tetapkan poin-poin yang akan dikontrol. Dalam hal
surat tadi umpamanya ejaan yang tepat, kalimat yang efektif, lay-out yang
menarik, bahasa yang santun, isi pesan yang mengena, penanggalan yang benar,
bentuk lipatan dan lain-lain yang dianggap perlu.
6. Terakhir pikirkan cara memonitor atau mengawasi
pekerjaan itu.
Dengan melihat langsung, memeriksa secara rinci, hanya
cukup dengan laporan lisan dari petugas atau bagaimana. Seperti dalam tugas
penulisan surat tadi, kita menetapkan proofreading dan editing sebelum diprint
atau diprint dulu samplenya baru dicheck, umpamanya. Terserah cara yang mana
saja bisa dipakai.
Ada baiknya menuliskan dan menyajikan perencanaan operational dalam bentuk tabel agar lebih mudah membacanya dan menarik kelihatannya.
Ada baiknya menuliskan dan menyajikan perencanaan operational dalam bentuk tabel agar lebih mudah membacanya dan menarik kelihatannya.
Rencana Strategi
Perencanaan strategic (strategic planning) adalah proses pemilihan tujuan-tujuan organisasi, penentuan strategi, program-program strategi, dan penetapan metoda-metoda yang diperlukan untuk menjamin bahwa strategi dan kebijaksanaan telah diimplementasikan. Perencanaan strategi juga merupakan proses perencanaan jangka panjang yang disusun untuk mencapai tujuan organisasi.
Ada tiga alasan yang menunjukkan pentingnya perencanaan strategis :
1.Perencanaan strategis memberikan kerangka dasar bagi perencanaan-perencanaan lainnya.
2.Pemahaman terhadap perencanaan strategis akan mempermudah pemahaman bentuk perencanaan lainnya.
3.Perencanaan strategis merupakan titik permulaan bagi penilaian kegiatan manajer dan organisasi.
Perencanaan strategis adalah
proses yang dilakukan suatu organisasi untuk menentukan strategi atau arahan,
serta mengambil keputusan untuk mengalokasikan sumber dayanya (termasuk modal
dan sumber daya manusia) untuk mencapai strategi ini. Berbagai teknik analisis
bisnis dapat digunakan dalam proses ini, termasuk analisis SWOT (Strengths,
Weaknesses, Opportunities, Threats), PEST (Political, Economic, Social,
Technological), atau STEER (Socio-cultural, Technological, Economic,
Ecological, Regulatory).
Perencanaan
Strategis ( Strategic Planning ) adalah sebuah alat manajemen yang digunakan
untuk mengelola kondisi saat ini untuk melakukan proyeksi kondisi di masa
depan, sehingga rencana strategis adalah sebuah petunjuk yang dapat digunakan
organisasi dari kondisi saat ini untuk mereka bekerja menuju 5 sampai 10 tahun
ke depan ( Kerzner , 2001 )
Untuk mencapai sebuah strategy yang telah ditetapkan oleh organisasi dalam rangka mempunyai keunggulan kompetitif, maka para pimpinan perusahaan, manajer operasi, haruslah bekerja dalam sebuah sistem yang ada pada proses perencanaan strategis / strategic planning ( Brown , 2005 ). Kemampuan manufaktur, harus dipergunakan secara tepat, sehingga dapat menjadi sebuah senjata yang unggul dalam sebuah perencanaan stategi ( Skinner, 1969 ).Untuk mencapai sebuah strategy yang telah ditetapkan oleh organisasi dalam rangka mempunyai keunggulan kompetitif, maka para pimpinan perusahaan, manajer operasi, haruslah bekerja dalam sebuah sistem yang ada pada proses perencanaan strategis Brown , 2005 ). Kemampuan manufaktur, harus dipergunakan secara tepat, sehingga dapat menjadi sebuah senjata yang unggul dalam sebuah perencanaan stategi ( Skinner, 1969 ).
Perencanaan strategis secara eksplisit berhubungan dengan manajemen perubahan, hal ini telah menjadi hasil penelitian beberapa ahli (e.g., Ansoff, 1965; Anthony,1965; Lorange, 1980; Steiner, 1979). Lorange (1980), menuliskan, bahwa strategic planning adalah kegiatan yang mencakup serangkaian proses dari inovasi dan merubah perusahaan, sehingga apabila strategic planning tidak mendukung inovasi dan perubahan, maka itu adalah kegagalan.
Untuk mencapai sebuah strategy yang telah ditetapkan oleh organisasi dalam rangka mempunyai keunggulan kompetitif, maka para pimpinan perusahaan, manajer operasi, haruslah bekerja dalam sebuah sistem yang ada pada proses perencanaan strategis / strategic planning ( Brown , 2005 ). Kemampuan manufaktur, harus dipergunakan secara tepat, sehingga dapat menjadi sebuah senjata yang unggul dalam sebuah perencanaan stategi ( Skinner, 1969 ).Untuk mencapai sebuah strategy yang telah ditetapkan oleh organisasi dalam rangka mempunyai keunggulan kompetitif, maka para pimpinan perusahaan, manajer operasi, haruslah bekerja dalam sebuah sistem yang ada pada proses perencanaan strategis Brown , 2005 ). Kemampuan manufaktur, harus dipergunakan secara tepat, sehingga dapat menjadi sebuah senjata yang unggul dalam sebuah perencanaan stategi ( Skinner, 1969 ).
Perencanaan strategis secara eksplisit berhubungan dengan manajemen perubahan, hal ini telah menjadi hasil penelitian beberapa ahli (e.g., Ansoff, 1965; Anthony,1965; Lorange, 1980; Steiner, 1979). Lorange (1980), menuliskan, bahwa strategic planning adalah kegiatan yang mencakup serangkaian proses dari inovasi dan merubah perusahaan, sehingga apabila strategic planning tidak mendukung inovasi dan perubahan, maka itu adalah kegagalan.
Faktor Waktu dan Perencanaan
Faktor waktu mempunyai pengaruh sangat besar terhadap perencanaan dalam
tiga hal yaitu :
1. waktu sangat diperlukan untuk melaksanaakan perencanaan efektif
2. waktu sering di perlukan setiap langkah perencanaan tanpa informasi lengkap tentang variabel-variabel dan alternatif-alternatif,karena waktu diperlukan untuk mendapatkan data dan memperhitungkan semua kemungkinan.
3. jumlah waktu yang akan dicakup dalam rencan harus dipertimbangkan.
Faktor waktu lainnya yang mempengaruhi perencanaan adalah seberapa sering rencana-rencana harus ditinjau kembali dan diperbaiki..ini tergantung sumber daya yang tersedia dan drajat ketetapan perencanaan manajemen.
Waktu perkiraan akan menjadi masukan penting sebagai teknik lainnya digunakan untuk mengatur struktur dan semua proyek. Menggunakan teknik estimasi waktu yang baik dapat mengurangi proyek-proyek besar ke sejumlah proyek-proyek kecil.
1. waktu sangat diperlukan untuk melaksanaakan perencanaan efektif
2. waktu sering di perlukan setiap langkah perencanaan tanpa informasi lengkap tentang variabel-variabel dan alternatif-alternatif,karena waktu diperlukan untuk mendapatkan data dan memperhitungkan semua kemungkinan.
3. jumlah waktu yang akan dicakup dalam rencan harus dipertimbangkan.
Faktor waktu lainnya yang mempengaruhi perencanaan adalah seberapa sering rencana-rencana harus ditinjau kembali dan diperbaiki..ini tergantung sumber daya yang tersedia dan drajat ketetapan perencanaan manajemen.
Waktu perkiraan akan menjadi masukan penting sebagai teknik lainnya digunakan untuk mengatur struktur dan semua proyek. Menggunakan teknik estimasi waktu yang baik dapat mengurangi proyek-proyek besar ke sejumlah proyek-proyek kecil.
Misi dan Tujuan
Fungsi Tujuan Organisasi
·
Pedoman bagi kehidupan, melalui penggambaran hasil-hasil di waktu yang akan
datang. Fungsi tujuan memberikan arah dan pemutusan kegiatan organisasi
mengenai apa yang harus dan tidak harus dilakukan.
·
Sumber legitimasi, akan meningkatkan kemampuan organisasi untuk mendapatkan
sumber daya dan dukungan dari lingkungan di sekitarnya.
·
Standar pelaksanaan, bila tujuan dilaksanakan secara jelas dan dipahami,
akan memberikan standar langsung bagi penilaian pelaksanaan kegiatan
organisasi.
·
Standar motivitas, berfungsi sebagai motivasi dan identifikasi karyawan
yang penting.
·
Dasar rasional pengorganisasian, tujuan organisasi merupakan suatu dasar
perancangan organisasi.
Manajemen by objektiv(MBO)
Pengertian
Management By Objective (MBO)
Management by objective
dapat juga disebut sebagai manajemen berdasarkan sasaran. Pertama kali
diperkenalkan oleh Peter Drucker dalam bukunya The Practice of Management pada
tahun 1954. Sejak itu MBO telah memacu banyak pembahasan, evaluasi, dan riset.
Banyak program jenis MBO telah dikembangkan, termasuk manajemen berdasarkan
hasil (manajemen by result), manajemen sasaran (goals manajemen), perencanaan
dan peninjauan kembali pekerjaan (work planning and review), sasaran dan
pengendalian (goals and controls), dan lain-lainnya. Walaupun artinya
berbeda-beda program ini sama. Penggunaannya tidak hanya dalam dunia usaha saja
tetapi telah semakin berkembang luas pada dunia nonbisnis, seperti organisasi
pendidikan, kesehatan, keagamaan, dan pemerintahan.
Management by Objectives
(MBO) adalah metode penilaian kinerja karyawan yang berorientasi pada
pencapaian sasaran kerja. Secara umum esensi sistem MBO, terletak pada
penetapan tujuan-tujuan umum oleh para manajer dan bawahan yang bekerja
bersama, penentuan bidang utama setiap individu yang hasilnya dirumuskan secara
jelas dalam bentuk hasil-hasil (sasaran) yang dapat diukur dan diharapkan, dan
ukuran penggunaan ukuran-ukuran tersebut sebagai satuan pedoman pengoperasian
satuan-satuan kerja serta penilaian masing penilaian sumbangan masing-masing
anggota. Pada metode MBO, setiap individu karyawan memiliki sasaran kerjanya
masing-masing, yang bersesuaian dengan sasaran kerja unitnya untuk satu periode
kerja. Penilaian kinerja dalam metode MBO dilakukan di akhir periode mengacu
pada realisasi sasaran kerja.
MBO berkenaan dengan
penetapan prosedur-prosedur formal, atau semi formal, yang dimulai dengan
penetapan tujuan dan dilanjutkan dengan serangkaian kegiatan (langkah) sampai
peninjauan kembali pelaksanaan kegiatan. Gagasan dasar MBO adalah bahwa MBO
merupakan proses partisipatif, secara aktif melibatkan manager dan para anggota
pada setiap tingkatan organisasi. Dengan pengembangan hubungan antara fungsi
perencanaan dan pengawasan,MBO membantu menghilangkan atau mengatasi berbagai
hambatan perencanaan.
1. Tahap
Pelaksanaan MBO
1. Tahap
Persiapan, yaitu tahap menyiapkan dokumen-dokumen serta data-data yang
diperlukan.
2. Tahap
Penyusunan, tahap ini menjabarkan tugas pokok dan fungsi-fungsi setiap bagian
dalam organisasi, agar seluruhnya terintegrasi mencapai visi dan misi yang
dicanangkan oleh instansi. Merumuskan keadaan sekarang untuk membantu
identifikasi dan antisipasi masalah atau hambatan serta kemudahan-kemudahan.
3. Tahap
Pelaksanaan, yaitu tahap dimana pelaksanaan seluruh kegiatan dan fungsi
manajemen secara menyeluruh seperti pengorganisasian, pengarahan, pemberian
semangat dan motivasi, koordinasi, integrasi dan sinkronisasi.
4. Tahap
Pengendalian, Monitor, Evaluasi dan Penyesuaian, pada tahap ini bertujuan agar
tercapainya tujuan dan sasaran yang tertuang dalam rencana stratejik melalui
kegiatan keseluruhan dalam perusahaan
MBO Yang Efektif
MBO yang efektif, terdapat unsur-unsur
yang lazim, sebagai berikut:
a. Kesepakatan
pada Program.
Pada setiap organisasi,
diperlukan keterikatan para manajer dalam pencapaian tujuan organisasi pada
proses MBO agar program itu efektif. Banyak waktu dan tenaga yang diperlukan
untuk melaksanakan suatu program MBO yang berhasil. Para manajer harus
mengadakan pertemuan dengan para bawahan, pertama untuk menetapkan
tujuan-tujuan dan kemudian untuk mengkaji kembali kemajuan dalam menuju tujuan
tersebut. Tidak ada jalan pintas yang mudah, bila sasaran telah ditetapkan
tetapi tidak dikaji kembali secara berkala, tujuan itu tidak mungkin akan
tercapai.
b. Penetapan
Sasaran Tingkat Atas
Program perencanaan yang
efektif biasanya dimulai dengan para manajer tertinggi yang menetapkan sasaran pendahuluan
setelah berkonsultasi dengan para anggota organisasi yang lain. Sasaran harus
dinyatakan dengan istilah yang khusus dan dapat diukur, misalnya peningkatan
lima persen dalam penjualan kuartal yang akan datang, tidak ada peningkatan
dalam biaya-biaya eksploitasi pada tahun ini, dan sebagainya. Dengan cara
demikian, para manajer dan bawahan akan mempunyai pengertian yang lebih jelas
tentang apa yang diharapkan oleh pimpinan teratas untuk dicapai, dan mereka
dapat melihat bagaimana pekerjaan mereka itu berkaitan langsung dengan
pencapaian sasaran organisasi.
c. Sasaran
Individual
Dalam progaram MBO yang
efektif, setiap manajer dan bawahan telah menetapkan dengan jelas tanggung
jawab pekerjaan dan tujuan-tujuannya, misalnya manajer subunit A akan
bertanggung jawab atas peningkatan 15% dalam jangka waktu dua bulan. Maksud
dari penetapan tujuan dengan menggunakan istilah-istilah pada setiap tingkatan
ialah untuk membantu para pegawai agar mengerti dengan jelas apa yang
diharapkan untuk dicapai. Hal ini membantu setiap rencana individual secara
efektif untuk mencapai sasaran yang ditargetkan.
Sasaran untuk setiap
individu harus ditetapkan dengan konsultasi antara individu dengan atasannya.
Dalam konsultasi bersama tersebut, para bawahan membantu para manajer
mengembangkan tujuan yang realitas karena mereka mengetahui dengan baik apa
yang mampu mereka capai. Para manajer membantu para bawahannya untuk
meningkatkan pandangan mereka terhadap tujuan yang lebih tinggi dengan
menunjukkan keinginan untuk membantu mereka dalam mengatasi rintangan serta
kepercayaan pada kemampuan para bawahan.
d. Partisipasi
Peranserta bawahan dalam
menetapkan tujuan sangat berbeda-beda. Para manajer kadang-kadang menetapkan
tujuan tanpa mengetahui sepenuhnya tentang kendala di mana bawahan mereka harus
bekerja. Para bawahan kemungkinan memilih tujuan yang tidak sejalan dengan
sasaran organisasi. Sebagai kebiasaan, semakin besar peranserta para manajer
dan bawahan dalam penetapan sasaran, semakin baik kemungkinannya sasaran itu
akan tercapai.
e. Otonomi
Dalam Pelaksanaan Rencana
Begitu sasaran telah
ditetapkan dan disetujui, individu itu mempunyai kebijakan yang luas untuk
memilih sarana-sarana guna pencapaian tujuan tersebut. Dalam kendala yang
normal dari kebijakan organisasi, para manajer harus bebas mengembangkan dan
melaksanakan program-program untuk mencapai sasaran tanpa penafsiran kembali
oleh atasan langsung mereka. Dari berbagai aspek yang mereka plih dengan bebas
dalam menentukan sarana dan kebijakan yang diberikan oleh organisasi, maka para
pegawai bawahan merasa diuntungkan dengan program MBO atau otonomi dalam
pelaksanaan rencana. Akan tetapi pegawai juga tidak bisa semaunya sendiri dalam
menentukan kebijakannya, juga harus menyangkut pada peraturan yang telah
ditetapkan oleh perusahaan atau organisasi tersebut. Dan aspek dari program MBO
tersebut, sangat dihargai oleh para manajer dan juga para pegawai bawahan.
f. Pengkajian
Kembali Untuk Kerja
Para manajer dan bawahan
secara berkala mengadakan pertemuan untuk mengkaji kembali kemajuan dalam
menuju sasaran. Selama pengkajian kembali, mereka memutuskan masalah-masalah
yang ada, dan apa yang dapat mereka lakukan masing-masing untuk memecahkannya.
Bila perlu tujuan-tujuan itu dapat dimodifikasi untuk periode peninjauan
kembali yang akan datang.
Agar adil dan berguna, pengkajian
kembali harus didasarkan atas hasil unjuk kerja yang dapat diukur, bukan atas
kriteria yang subjektif, seperti sikap dan kemampuan. Misalnya, daripada
berusaha untuk menilai bagaimana giatnya seseorang di lapangan, seorang manajer
seharusnya menekankan hasil penjualan nyata yang dicapai dan sebagai
pengetahuan terinci mengenai pelanggannya.
Sistem MBO
Program-program MBO sangat
bervariasi, banyak dirancang untuk digunakan dalam suatu kelompok kerja, tetapi
banyak juga digunakan untuk keseluruhan organisasi. Metode-metode dan
pendekatan-pendekatan yang digunakan para manajer dalam program MBO akan
berbeda. Berikut ini adalah unsur-unsur umum sistem MBO yang efektif yang pada
hakekatnya merupakan aspek-aspek proses pokok MBO:
a) Komitmen
pada program. Program MBO yang efektif mensyaratkan komitmen para manajer
disetiap tingkatan organisasi terhadap pencapaian tujuan pribadi dan organisasi
serta proses MBO.
b) Penetapan
tujuan manejemen puncak. Program-program perencanaan efektif dimulai dengan
para manajer puncak yang menetapkan tujuan-tujuan pendahuluan setelah
berkonsultasi dengan para anggota organisasi lainnya.
c) Tujuan-tujuan
perseorangan. Setiap manajer dan bawahan merumuskan tanggung jawab dan tujuan
jabatan mereka secara jelas. Maksudnya adalah untuk membantu para karyawan
memahami secara jelas apa yang diharapkan agar dapat tercapai.
d) Partisipasi.
Derajat partisipasi bawahan dalam penetapan tujuan sangat bervariasi. Sebagai
pedoman umum, semakin besar partisipasi bawahan, semakin besar kemungkinan
tujuan akan tercapai.
e) Otonomi
dalam implementasi rencana. Setelah tujuan ditetapka dan di setujui, individu
mempunyai keluasan dalam memilih peralatan untuk pencapaian tujuan. Manajer
bebas mengimplementasikan dan mengembangkan program-program pencapaian tujuan
tanpa campur tangan atasan langsung dengan batasan-batasan organisasi.
f) Peninjauan
kembali prestasi. Manajer dan bawahan bertemu secara periodik untuk meninjau
kembali kemajuan terhadap tujuan.
4. MBO
Dalam Pendekatan Sistem
Dalam
sistem dikenal istilah pendekatan sistem. Pendekatan sistem merupakan suatu
proses pemecahan masalah yang mencakup 4 kegiatan. 1).perencanaan,
2).implementasi, 3).evaluasi 4).revisi. secara luas pendekatan sistem dpat
diartikan sebagai alata atau cara berpikir yang menekannkan pada identifikasi
masalah dan pemecahan masalah.
Penerapan
MBO dalam suatu sistem dilihat dari objek permasalahan. Misalnya penerapan MBO
dalam sistem pendidikan. Drucker (1954) melalui MBO (management by objective)
dapat memberikan gagasan mengenai prinsip manajemen berdasarkan
sasaran sebagai suatu pendekatan dalam perencanaan. Penerapan MBO misalnya
kepala dinas yang memimpin tim beranggotakan pejabat dan fungsional dinas, dan
stakeholders dalam merumuskan visi, misi dan objektif dinas pendidikan.
Penerapan MBO dalam tingkat sekolah
misalnya, kepala sekolah, wakil kepala sekolah, siswa, orang tua siswa,
masyarakat dan stakeholders duduk bersama membahas rencana strategis sekolah
dengan mengembangkan tujuh langkah MBO seperti:
a. Menentukan
hasil akhir apa yang ingin dicapai sekolah
b. Menganalisis
apakah hasil akhir itu berkaitan dengan tujuan sekolah
c. Berunding
menetapkan sasaran-sasaran yang dibutuhkan
d. Menetapkan
kegiatan apa yang tepat untuk mencapai sasaran
e. Menyusun
tugas-tugas untuk mempermudah mencapai sasaran
f. Menentukan
batas-batas pekerjaan dan jenis pengarahan yang akan dipergunakan oleh atasan
g. Lakukan
monitoring dan buat laporan.
5. Kelebihan
MBO
Dalam suatu penelitian
tentang para manajer, Tosi dan Carroll mencatat keuntungan-keuntungan utama
dari program MBO antara lain:
a-program MBO memberi
kesempatan kepada para individu untuk mengetahui apa yang diharapkan dari
mereka.
b-program MBO membantu
dalam perencanaan dengan membuat para manajer menetapkan sasaran dan waktu yang
ditargetkan.
c-program MBO
meningkatkan komunikasi antara para manajer dan bawahan
d-program MBO membuat
para manajer lebih menyadari tentang sasaran organisasi
e-progaram MBO membuat
proses manajemen lebih wajar dengan memusatkan pada suatu pencapaian. Program
ini juga memberi kesempatan kepada para bawahan untuk mengetahui sebaik mana
mereka bekerja dalam kaitannya dengan sasaran organisasi
Dari penelitian ini serta
analisis lainnya, tampak jelas bahwa MBO mempunyai keuntungan bagi para
individu dan organisasi. Bagi individu mungkin keuntungan utamanya ialah
meningkatnya rasa keterlibatan dan pengertian tentang sasaran organisasi. Ini
memungkinkan usaha dipusatkan di mana usaha itu sangat diperlukan dan sangat
mungkin untuk diberikan penghargaan. Di samping itu tiap individu mengetahi
bahwa mereka akan dinilai, bukan berdasarkan hubungan pribadi atau prasangka
atasan, tetapi berdasarkan sebaik mana mereka mencapai sasaran yang mereka
sendiri telah membantu menetapkannya. Sebagai akibatnya, individu-individu
dalam suatu proses MBO lebih besar kemungkinannya untuk melaksanakan tanggung
jawab mereka dengan penuh kemauan dan keberhasilan.
Semua keuntungan individu
ini setidak-tidaknya secara tidak langsung akan memberikan keuntungan kepada
perusahaan atau organisasi. Di samping itu ada keuntungan pada suatu program
MBO yang dilaksanakan dengan berhasil yang berlaku langsung pada organisasi.
Karena karena semua tingkat dalam organisasi membantu dalam penetapan tujuan,
maka sasaran dan tujuan oraganisasi menjadi lebih realistis. Juga komunikasi
yang bertambah baik sebagai akibat adanya MBO, dapat membantu organisasi untuk
mencapai sasarannya dengan lebih baik. Artinya, seluruh organisasi mempunyai
rasa kesatuan yang meningkat. Dan para pegawai bawahan lebih menyadari apa yang
diharapkan oleh pimpinan puncak dan pada gilirannya aka membantu dalam
penetapan tujuan yang dapat dicapai.
5. Kelemahan
MBO
MBO, tentu saja tidak
menyelesaikan semua masalah organisasi. Penilaian dari para bawahan merupakan
bidang yang sangat sulit karena hal ini menyangkut status, gaji, dan kenaikan
pangkat. Bahkan dalam program MBO yang paling baik pun, proses pengkajian
kembali mungkin dapat menyebabkan ketegangan dan kebencian. Tidak semua
prestasi dapat dikuantifikasikan atau diukur. Bahkan bila apa yang akan dicapai
dapat diukur, misalnya jumlah penjualan total di daerah bawahan tersebut
mungkin tidak bertanggung jawab untuk hal tersebut. Misalnya, penjualan mungkin
menurun walaupun bawahan telah berusaha dengan sebaik-baiknya disebabkan oleh
langkah dari para pesaing yang tidak diperkirakan sebelumnya.
Perubahan-perubahan yang diinginkan oleh MBO dalam perilaku para manajer
mungkin juga menimbulkan masalah. Dalam MBO, penekanan diubah dari menilai para
bawahan menjadi membantu mereka. Ini merupakan perubahan yang sulit dilakukan
oleh para manajer.
Hampir semua masalah
merupakan persoalan yang berulang-ulang terjadi yang dihadapi oleh para anggota
organisasi, baik mereka mempunyai program MBO maupun tidak. Namun demikian, ada
dua kategori kelemahan yang khas bagi organisasi yang mempunyai program MBO.
Dalam kategori pertama adalah kelemahan yang melekat (inherent) dalam proses
MBO. Ini membutuhkan banyak waktu dan upaya dalam mempelajari penggunaan teknik
MBO dengan tepat serta pekerjaan tulis-menulis yang biasanya diperlukan. Dalam
kategori kedua ada kelemahan yang secara teoritis tidak perlu, tetapi yang
tampaknya sering berkembang bahkan dalam program-program MBO yang dilaksanakan
dengan tepat.
Kategori yang kedua
meliputi beberapa masalah penting yang harus dikendalikan bila program itu
tidak berhasil, yaitu:
1.
Gaya dan dukungan pimpinan
Bila para manajer puncak
lebih menyukai pendekatan yang otoriter dan pengambilan keputusan yang
terpusat, maka mereka akan memerlukan pendidikan kembali secara serius sebelum
dapat melaksanakan program MBO.
2.
Adaptasi dan perubahan
MBO mungkin memerlukan
banyak perubahan dalam struktur organisasi, pola wewenang dan prosedur
pengendalian. Para manajer harus mendukung perubahan-perubahan ini. Mereka yang
berperan serta hanya karena terpaksa untuk mendukung organisasi itu akan dengan
mudah menyebabkan kegagalan program tersebut.
3.
Kecakapan hubungan antarpribadi (interpersonal skill)
Penetapan tujuan dan
proses pengkajian kembali oleh manajer dan bawahan memerlukan tingkat kecakapan
yang tinggi dalam hubungan antarpribadi. Banyak manajer yang tidak mempunyai
pengalaman sebelumnya atau kemampuan yang lazim dalam bidang ini. Pendidikan
dalam pembibingan dan wawancara mungkin diperlukan
4.
Uraian tugas (job description)
Penggunaan daftar khusus
dari tujuan dan tanggung jawab individu adalah sulit dan menghabiskan waktu. Di
samping itu uraian tugas harus dikaji kembali dan direvisi karena keadaan dalam
organisasi berubah. Hal ini terutama penting selama taraf pelaksanaan, bila
dampak dari sistem MBO sendiri dapat menyebabkan perubahan dalam tugas dan
tanggung jawab pada tiap tingkat.
5.
Penetapan dan pengkoordinasian tujuan
Penyusunan sasaran yang
penuh tantangan tetapi realistis sering merupakan sumber kekacauan bagi para
manajer. Mungkin terdapat kesulitan dalam membuat tujuan itu dapat diukur,
dalam menemukan jalur yang baik antara sasaran yang terlalu mudah dan tidak mungkin
dalam melukiskan tujuan secara jelas dan tepat. Tambahan pula, mungkin sulit
mengkoordinasikan seluruh tujuan organisasi dengan kebutuhan pribadi dan
tujuan-tujuan individu.
6.
Pengendalian terhadap metode pencapaian sasaran
Frustasi yang mendalam
bisa terjadi bila usaha seorang manajer untuk mencapai sasaran tergantung
kepada pencapaian usaha-usaha lain dalam organisasi. Misalnya, manajer bagian
produksi tidak diharapkan akan mencapai sasaran merakit 100 unit per hari bila
bagiannya diberi suku cadang hanya untuk 90 unit. Penetapan sasaran kelompok
dan keluwesan diperlukan untuk menyelesaikan persoalan macam ini.
7.
Konflik antara kreativitas dan MBO
Mengutamakan prestasi,
peningkatan dan kepuasan pada pencapaian sasaran mungkin tidak akan produktif
bila cenderung menghambat inovasi. Bila para manajer gagal untuk mencoba
sesuatu yang baru dan mungkin mengandung risiko karena tenaga mereka dicurahkan
pada tujuan-tujuan MBO tertentu, beberapa kesempatan mungkin akan hilang. Untuk
menghindari bahaya ini, Odiorne mengusulkan agar kesepakatan terhadap inovasi
dan perubahan harus merupakan bagian dari proses penetapan sasaran.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Management by objective
dapat juga disebut sebagai manajemen berdasarkan sasaran.MBO berkenaan dengan
penetapan prosedur-prosedur formal, atau semi formal, yang dimulai dengan
penetapan tujuan dan dilanjutkan dengan serangkaian kegiatan (langkah) sampai
peninjauan kembali pelaksanaan kegiatan. Gagasan dasar MBO adalah bahwa MBO
merupakan proses partisipatif, secara aktif melibatkan manager dan para anggota
pada setiap tingkatan organisasi. Dengan pengembangan hubungan antara fungsi
perencanaan dan pengawasan,MBO membantu menghilangkan atau mengatasi berbagai
hambatan perencanaan.
Tahap Pelaksanaan MBO
terdiri dari:tahap Persiapan,tahap penyusunan,tahap Pelaksanaan,tahap
Pengendalian,monitor, evaluasi dan Penyesuaian.
MBO yang efektif,
terdapat unsur-unsur yang lazim, sebagai berikut:Kesepakatan pada Program,
Penetapan Sasaran Tingkat Atas,Sasaran Individual,Partisipasi,Otonomi Dalam
Pelaksanaan Rencana,Pengkajian Kembali Untuk Kerja.
unsur-unsur umum sistem
MBO yang efektif yang pada hakekatnya merupakan aspek-aspek proses pokok MBO:
Komitmen pada program,Penetapan tujuan manejemen puncak,Tujuan-tujuan
perseorangan,Partisipasi,Otonomi dalam implementasi rencana,Peninjauan kembali
prestasi.
MBO Dalam Pendekatan
Sistem mencakup 4 kegiatan. 1).perencanaan, 2).implementasi, 3).evaluasi
4).revisi. secara luas pendekatan sistem dpat diartikan sebagai alata atau cara
berpikir yang menekannkan pada identifikasi masalah dan pemecahan masalah.
Penerapan
MBO dalam suatu sistem dilihat dari objek permasalahan. Misalnya penerapan MBO
dalam sistem pendidikan. Drucker (1954) melalui MBO (management by objective)
dapat memberikan gagasan mengenai prinsip manajemen berdasarkan
sasaran sebagai suatu pendekatan dalam perencanaan. Penerapan MBO misalnya
kepala dinas yang memimpin tim beranggotakan pejabat dan fungsional dinas, dan
stakeholders dalam merumuskan visi, misi dan objektif dinas pendidikan.
Tipe Keputusan
Proses Pembuatan
Keputusan
Proses ialah tahap-tahap
atau rangkaian kegiatan yang harus dilalui dalam usaha mendapatkan putusan yang
tepat, cepat dan lengkap. Seperti telah ditunjukkan pada definisi terdahulu,
Pembuatan putusan pada dasarnya adalah pemilihan salah satu di antara berbagai
alternatif yang tersedia untuk dilaksanakan. Untuk dapat menentukan pilihan
terbaik, perlu dilakukan penilaian terhadap berbagai alternatif tersebut dan
setelah itu diikuti dengan tindakan yang merupakan pelaksanaan dari putusan
yang telah dibuat. Banyak model pembuatan putusan rasional yang dikemukakan
oleh para pakar, ada proses yang lebih singkat dengan empat langkah, yaitu
identifikasi masalah, pengembangan alternatif solusi, pemilihan solusi, serta
implementasi dan evaluasi solusi. Dan ada yang lebih rinci sampai pada enam
langkah, seperti yang diuraikan dalam tulisan ini. Satu hal yang perlu
diperhatikan adalah bahwa tidak ada satu pun model yang dapat menjamin bahwa
manajer akan selalu membuat putusan yang benar. Meskipun demikian, para manajer
yang menggunakan suatu model yang rasional, intelektual, dan sistematik akan
lebih berhasil dibandingkan para manajer yang menggunakan pendekatan yang
bersifat informal. Dalam tulisan ini, dipilih model yang sedikit lebih rinci
mengenai tahap-tahap pembuatan putusan yaitu dari Muhyadi (opcit) sebagai
berikut:
1. Identifikasi
masalah atau penentuan tujuan yang hendak dicapai lewat keputusan yang akan
diambil - dibuat
2. Pengembangan
atau pencarian berbagai alternatif yang mungkin dapat dibuat
3. Penilaian
terhadap berbagai alternatif yang sudah dikembangkan
4. Menentukan
pilihan yang terbaik
5. Melaksanakan
pilihan yang sudah ditentukan
6. Melakukan
pemantauan terhadap pelaksanaan keputusan
Identifikasi Masalah atau
Tujuan
Pembuatan putusan diawali
dengan dirasakannya masalah atau problema tertentu yang menghendaki pemecahan.
Masalah yang dihadapi dapat berupa masalah besar dan dapat juga masalah kecil
yang hampir setiap harinya dihadapi. Adapun jenis dan bobot masalah yang dihadapi,
terlebih dahulu harus dikenali masalah apa yang sebenarnya dirasakan sehingga
pemecahannya dapat dilakukan dengan tepat. Tidak jarang, apa yang langsung
dirasakan sebenarnya bukan merupakan masalah pokok melainkan sekedar gejala
atau mungkin akibat yang timbul dari masalah pokok yang sesungguhnya. Apabila
pengenalan masalahnya keliru, maka putusan yang diambil tidak akan efektif
sebab tidak memecahkan inti masalahnya. Dalam bidang organisasi, kemampuan
untuk dapat mengenal masalah dengan benar ini sangat penting sebab
masalah-masalah yang sesungguhnya dihadapi sangat kompleks. Kecuali menyangkut
segi proses yang memang lebih sering menimbulkan masalah, organisasi menghadapi
juga faktor manusia yang sukar diprediksi.
Huber dalam Ashar Kasim
(1994:p.8-9) mengatakan ada tiga kecenderungan yang dapat mengganggu penjajakan
masalah:
a. Kecenderungan
untuk merumuskan masalah menurut penyelesaian yang ingin diusulkan. Dengan
memfokuskan permasalahan kepada satu kemungkinan penyelesaian dan mengurangi kesempatan
untuk mencari alternative-alternatif penyelesaian yang lain. Misalny dengan
mengatakan masalahnya sebagai kelemahan dalam pelaksanaan program pembinaan
staf, pada hal msalah yang sebenarnya belum dijelaskan. Akibatnya hal ini akan
menjurus kepada pembhuatan putusan yang salah sebab yang ingin dipecahkan
adalah sesuatu yang bukan merupakan masalah sehingga tidak ada usaha pencarian
alternative penyelesaian yang lain yang lebih relevan.
b. Kecenderungan
untuk merumuskan masalah secara sempit dan menurut tujuan-tujuan yang lebih
rendah. Hal ini bisa menyebabkan masalah yang dirumuskan lebih
sempit daripada yang seharusnya sehingga tidak menunjang usaha
organisasi secara keseluruhan. Perumusan masalah yang terlalu sempit juga
menghalangi usaha-usaha pengembangan dan bertahannya (survival) dari organisasi
tersebut. Seorang manajer yang berpandangan luas menganggap tujuan-tujuan yang
lebih rendah sebagai alat untuk mencapai tujuan yang lebihtinggi (strategis)
dan tidak beranggapan bahwa tujuan-tujuan yang lebih rendah (operasional)
tersebut sebagai tujuan-tujuan akhir.
c. Kecenderungan
untuk melakukan diagnosis masalah berdasarkan gejala-gejala yang terlihat (symptoms).
Umumnya para manajer cenderung untuk hanya menyelidiki suatu masalah
dalam batas-batas gejala yang terlihat atau diketahui, mereka terlalu sering
menghabisskan waktunya menghadapi “symptoms” yang sama yang timbul lagi
berulang-ulang. Salah satu factor yang mempengaruhi adanya kecenderungan untuk
hanya melakukan diagnosis masalah berdasarkan gejala-gejala yang terlihat
saja adalah karena pembhuat putusan tersebut kurang pengetahuan atau tidak
mempunyi konsep yang relevan dengan permasalahan yang dihadapi.
Pengembangan Alternatif
Yang dimaksud dengan
alternatif dalam hal ini ialah berbagai kemungkinan yang dapat diambil untuk
mengatasi masalah yang dirasakan. Terhadap suatu masalah yang timbul pada
umumnya dapat dilakukan berbagai cara pemecahan. Setiap pemecahan mengandung
kelebihan dan kelemahan tertentu. Untuk dapat membuat putusan yang paling
mengun-tungkan (rasional) perlu dikembangkan semua alternatif yang melekat pada
masalah pembuatan putusan. Semua alternatif tersebut masing-masing diidentifikasi
keuntungan dan kerugian dalam hal ini mencakup berbagai aspek yang diperkirakan
akan mempengaruhi efektifitas organisasi secara keseluruhan. Dalam hubungan
dengan ini, Simon (1984) mengemukakan bahwa perilaku pembuatan putusan yang
sesunguhnya tak memenuhi syarat rasionalitas obyektif paling tidak dalam tiga
hal, yaitu: 1) ketidak-lengkapan pengetahuan, 2) kesulitan-kesulitan membuat
dugaan, dan 3) hanya sedikit sekali dari kemungkinan-kemungkinan alternatif
yang terpikirkan Jadi batas-batas kemungkinan-kemungkinan untuk pengem-bangan
alternatif adalah kelengkapan pengetahuan dan kemampuan berpikir membuat dugaan
dan memperoleh sebanyak alternatif yang relevan dengan suatu keputusan meliputi
segi-segi ekonomi, moral, lingkungan, dan beberapa segi lain yang relevan.
Penilaian terhadap
Alternatif
Sebelum menentukan
pilihan alternatif mana yang akan dibuat, terlebih dahulu dilakukan penilaian
terhadap berbagai alternatif yang tersedia. Pertimbangan yang digunakan untuk
melakuka penilaia terutama menyangkut segi-segi konsekuensi yang akan lebih
menguntungkan dan yang paling kecil kerugiannya dari masing-masing alternatif.
Stonner dan Wankel (1993) mengemukakan bahwa untuk menilai efektivitas dari
alternatif dapat diukur dengan dua kriteria: seberapa realistis alternatif itu
dipandang dari sudut tujuan dan sumber daya organisasi, dan seberapa baik ia
membantu pemecahan masalah.
Setiap alternatif harus
dinilai berdasarkan tujuan dan sumber daya organisasi. Suatu alternatif mungkin
terlihat logis, tetapi jika tidak dilaksanakan, ia tidak bermanfaat sama
sekali. Misalnya, jika angka penjualan meningkat tetapi keuntungan menurun,
kita mungkin akan mengurangi biaya umum. Namun demikian, jika biaya umum telah
sangat dikurangi, atau jika pengurangan selanjutnya akan menurunkan mutu
produksi, maka alternatif ini tidak masuk akal untuk dilaksanakan.
Di samping itu, setiap
alternatif harus dinilai apakah yang akan timbul jika suatu cara tindakan
diikuti? Manajer harus menentukan seberapa jauh kegairahan pegawai dalam
melaksanakan suatu keputusan dan apa yang akan terjadi jika keputusan itu tidak
dilaksanakan sepenuhnya. Masalah praktis mungkin terlibat dalam pelaksanaan
keputusan, seperti perlunya mendapatkan dana tambahan. Bagian-bagian lain dalam
organisasi yang akan terpengaruh oleh suatu keputusan harus diajak berunding.
Pesaing mungkin terpengaruh oleh keputusan itu sehingga reaksinya harus
diperhitungkan.
Setiap alternatif juga
harus dievaluasi dalam hubungannya dengan seberapa baik alternatif itu akan
mencapai yang “harus” dan yang “sebaiknya” dari suatu masalah. Dalam beberapa
hal, manajer mungkin dapat melakukan eksperimen dengan cara pemecahan yang
tersedia dengan cara mencoba satu atau lebih alternatif pada bagian-bagian yang
berbeda dalam organisasinya untuk melihat alternatif mana yang paling efketif.
Dalam hal lain, manajer dapat menggunakan teknik simulasi untuk menyelidiki
kemungkinan hasil dari pemecahan alternatif. Tetapi, biasanya ia hanya akan
menggunakan pengetahuan, pertimbangan, dan pengalaman-nya untuk memutuskan
alternatif yang dianggap paling menarik
Pemilihan Alternatif
Bentuk pengambilan
putusan yang sebenarnya ialah pemilihan alternatif yang dinilai paling tepat
dan paling baik di antara berbagai alternatif yang tersedia. Pemilihan alternatif
merupakan tindak lanjut dari penilaian setelah mempertimbangkan berbagai
keuntungan dan kerugian. Karena setiap alternatif mengandung keuntungan dan
kerugian, maka pilihan yang ditetapkan adalah pilihan yang optimal, yaitu
pilihan yang masih memberikan keuntungan (meskipun tidak maksimal) tetapi tidak
menimbulkan kerugian yang berarti. Dari pendapat Simon (ibid) diperoleh
pemahaman bahwa rasionalitas keputusan dapat dipandang dari dua segi, yaitu 1)
rasionalitas dari segi pandangan si individu, dan 2) rasionalitas dari segi
pandangan kelompok. Suatu keputusan itu rasional dari segi pandangan si
individu (rasional secara subyektif) jika keputusan itu sejalan dengan
nilai-nilai, alternatif-alternatif, serta informasi yang ditimbangnya dalam
mencapai keputusan tersebut. Sebuah keputusan itu rasional dari segi pandangan
kelompok (rasional dari segi obyektif) jika ia sejalan dengan nilai-nilai yang
menguasi kelompok itu, serta informasi-informasi yang dimiliki kelompok itu
yang relevan dengan keputusan tersebut. Oleh karena itu pemilihan alternatif
dalam pembuatan putusan haruslah optimal yang dapat diterima oleh individu juga
oleh kelompok
Pelaksanaan Pilihan
Alternatif yang telah
dipilih baru memiliki nilai keputusan setelah diimplementasikan. Sekalipun
pemilihan alternatif sudah jelas, akan tetapi seringkali keputusan yang baik
pun mengalami kegagalan karena tidak diterapkan dengan benar. Kesalahan yang
sering dilakukan manajer adalah menganggap bahwa, jika ia telah membuat
putusan, maka tindakan atas keputusan itu menyusul dengan sendirinya. Jika
keputusan itu baik, tetapi bawahan tidak bersedia atau tidak dapat
melaksanakannya, maka keputusan itu tidak akan efektif. Keberhasilan penerapan
keputusan yang dibuat oleh manajer organisasi, bukan semata-mata tanggungjawab
dari manajer organisasi akan tetapi komitmen dari bawahan untuk melaksanakannya
juga memegang peranan penting.
Dalam mengevaluasi dan
memilih alternatif suatu keputusan seha-rusnya juga mempertimbangkan
kemungkinan penerapan dari keputusan tersebut. Betapapun baiknya suatu
keputusan apabila keputusan tersebut sulit diterapkan maka keputusan tersebut
juga tidak ada artinya. Pembuatan putusan di beberapa organisasi mereka tidak
terlibat dengan operasional harian, mereka membuat putusan berkaitan dengan
tujuan yang ideal dan hanya sedikit mempertimbangkan penerapan operasionalnya.
Pemantauan terhadap
Pelaksanaan
Agar keputusan yang telah dibuat dan
kemudian dilaksanakan mencapai sasaran yang telah ditentukan, pelaksanaannya
perlu dipantau (dimonitor). Dari kegiatan pemantauan itu diperoleh umpan balik
yang berguna dalam menyempurnakan kegiatan selanjutnya sehingga pembuatan
putusan tersebut memberikan hasil yang diharapkan dan merupakan
suatu proses yang berkelanjutan, tak ada putus-putusnya
Faktor Bawaan Dalam
Pembuatan Keputusan
faktor-faktor yang harus diperhatikan
dalam mengambil keputusan sebagai berikut:
1. hal-hal
yang berwujud maupun tidak berwujud, yang emosional maupun rasional perlu
diperhitungkan dalam pengambilan keputusan;
2. setiap
keputusan nantinya harus dapat dijadikan bahan untuk mencapai tujuan
organisasi;
3. setiap
keputusan janganlah berorientasi pada kepentingan pribadi, perhatikan
kepentingan orang lain;
5. pengambilan
keputusan merupakan tindakan mental. Dari tindakan mental ini kemudian harus
diubah menjadi tindakan fisik;
6. pengambilan
keputusan yang efektif membutuhkan waktu yang cukup lama;
7. diperlukan
pengambilan keputusan yang praktis untuk mendapatkan hasil yang baik;
8. setiap
keputusan hendaknya dikembangkan, agar dapat diketahui apakah keputusan yang
diambil itu betul; dan
9. setiap
keputusan itu merupakan tindakan permulaan dari serangkaian kegiatan
berikutnya.
Kemudian terdapat enam faktor lain
yang juga ikut mempengaruhi pengambilan keputusan.
1.Fisik
Didasarkan pada rasa yang dialami pada tubuh, seperti rasa tidak nyaman, atau kenikmatan. Ada kecenderungan menghindari tingkah laku yang menimbulkan rasa tidak senang, sebaliknya memilih tingkah laku yang memberikan kesenangan.
2.Emosional
Didasarkan pada perasaan atau sikap. Orang akan bereaksi pada suatu situasi secara subjective.
3.Rasional
Didasarkan pada pengetahuan orang-orang mendapatkan informasi, memahami situasi dan berbagai konsekuensinya.
4.Praktikal
Didasarkan pada keterampilan individual dan kemampuan melaksanakan. Seseorang akan menilai potensi diri dan kepercayaan dirinya melalui kemampuanya dalam bertindak.
5.Interpersonal
Didasarkan pada pengaruh jaringan sosial yang ada. Hubungan antar satu orang keorang lainnya dapat mempengaruhi tindakan individual.
6.Struktural
Didasarkan pada lingkup sosial, ekonomi dan politik. Lingkungan mungkin memberikan hasil yang mendukung atau mengkritik suatu tingkah laku tertentu
1.Fisik
Didasarkan pada rasa yang dialami pada tubuh, seperti rasa tidak nyaman, atau kenikmatan. Ada kecenderungan menghindari tingkah laku yang menimbulkan rasa tidak senang, sebaliknya memilih tingkah laku yang memberikan kesenangan.
2.Emosional
Didasarkan pada perasaan atau sikap. Orang akan bereaksi pada suatu situasi secara subjective.
3.Rasional
Didasarkan pada pengetahuan orang-orang mendapatkan informasi, memahami situasi dan berbagai konsekuensinya.
4.Praktikal
Didasarkan pada keterampilan individual dan kemampuan melaksanakan. Seseorang akan menilai potensi diri dan kepercayaan dirinya melalui kemampuanya dalam bertindak.
5.Interpersonal
Didasarkan pada pengaruh jaringan sosial yang ada. Hubungan antar satu orang keorang lainnya dapat mempengaruhi tindakan individual.
6.Struktural
Didasarkan pada lingkup sosial, ekonomi dan politik. Lingkungan mungkin memberikan hasil yang mendukung atau mengkritik suatu tingkah laku tertentu
Putet. 2011. Manajemen
Berdasarkan Sasaran ( MBO). 04 Februari. Dipublikasikan oleh : http://megroxx.blogspot.com/2011/02/manajemen-berdasarkan-sasaran-mbo.html
Arifianto. 2011. Manajemen
Pendidikan. Dipublikasikan oleh :http://blog.umy.ac.id/arifianto/kuliah-kita/manajemen-pendidikan/
0 komentar:
Posting Komentar